Minggu, 17 Februari 2008

Tentang Saham

Bursa saham di Indonesia beberapa tahun terakhir menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat. Wajar, jika dana sekitar Rp 5-6 triliun per hari beredar di pasar modal. Nilai transaksi per hari terbesar di Indonesia ini tidak mungkin terjadi tanpa ada 169 perusahaan yang namanya sekuritas (perusahaan efek).
Dunia pasar modal mulai dilirik masyarakat, seiring prospek keuntungan yang diberikan dari transaksi ini cukup besar. Terbukti dari tahun ke tahun nilai transaksi terus meningkat tajam. Lantas sejauhmana perusahaan broker (sekuritas) memainkan perannya di pasar modal?
Jelas perkembangan pasar modal yang begitu dahsyat tidak bisa lepas dari peran lembaga-lembaga yang tergabung dalam Self Regulatory Organization (SRO), dan juga Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) tentunya. Dari sekian banyak lembaga tersebut, salah satu lembaga yang menunjang perkembangan pasar modal adalah perusahaan efek atau dikenal dengan sekuritas.
Perusahaan ini boleh dibilang jembatannya bagi perusahaan yang akan masuk pasar modal dan juga bagi masyarakat yang akan berinvestasi di pasar modal. Perusahaan efek memiliki andil besar dalam membawa perusahaan masuk pasar modal dan juga menggenjot frekuensi dan nilai transaksi perdagangan saham.
Dari tangan mereka mengalir investor, baik luar maupun dalam negeri, dengan investasi yang dimilikinya untuk turut membanjiri lantai bursa. Dan dari kerja mereka pula perusahaan yang akan mencatatkan saham bursa dapat memperoleh dana segar.
Di Indonesia, perusahaan sekuritas bisa saja menjalankan satu dari izin yang diberikan dan juga dimungkinkan untuk menjalankan kedua fungsi tadi, yaitu sebagai perusahaan yang akan membawa perusahaan masuk pasar modal (Penjamin Efek) dan juga sekaligus menjadi broker yang memfasilitasi masyarakat untuk membeli dan menjual saham di pasar modal. Karena itu untuk bertransaksi di pasar modal, masyarakat harus melalui perusahaan sekuritas.
Sekedar gambaran, selama tahun lalu, total transaksi saham di bursa telah mencapai Rp 1.050 triliun, naik 324% dari transaksi selama 2006 yang mencapai Rp 445,71 triliun. Sedangkan tahun 2008, selama 11 hari perdagangan (2 – 18 Januari) nilai transaksinya telah mencapai Rp 62,310 triliun. Jika diasumsikan pada tahun ini, jumlah perdagangan saham di bursa sekitar 240 hari, maka total dana yang ditransaksikan pada saham akan mencapai sekitar Rp 1.360 triliun. Dan total transaksi sebesar itu, dijalankan melalui 117 perusahaan sekuritas.
Meningkatnya pertumbuhan transaksi tahun 2007, juga disumbangkan dari adanya pertambahan investor baru. Dan sudah dipastikan investor baru itu masuk berinvestasi saham di pasar modal sekuritas. Tak salah jika Direktur BEI MS Sembiring mengakui secara fair peranan sekuritas. “Sebanyak 122 anggota bursa (AB) telah berhasil membawa 600 ribu investor selama dan nilai transaksi rata-rata per hari sebesar Rp6,1 triliun,” papar Sembiring kepada Investor Daily.
Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), tercatat hingga November 2007, jumlah perusahaan sekuritas mencapai 169 poerusahaan. Melalui perusahaan itu pula pemerintah menaruh harapan dapat menarik setidaknya 2 juta nasabah pada 2010, untuk berinvestasi dan bertransaksi di pasar modal. Dari jumlah itu, diharapkan sekitar 70% merupakan investor lokal yang kemungkinan besar menjadi tugasnya sekuritas lokal. Sedangkan 30% berasal dari investor asing yang menjadi porsi sekuritas asing (joint venture).
Ditinjau dari kemampuan merangkul investor, kemungkinan sekuritas lokal pasti lebih banyak dibandingkan asing. Sedangkan dari sisi nilai transaksi, kemungkinan asing lebih besar. Lihat saja data BEI. Sejak perdagangan saham dari 12 Desember 2007 hingga 12 Februari lalu, data menunjukkan dari transaksi terbesar 25 perusahaan broker, sebagian didominasi broker asing.
Tiga perusahaan asing mendominasi lima besar transaksi, yaitu Kim Eng securities, CLSA Indonesia dan CIMB-GK Securities. Sedangkan Danareksa milik BUMN dan sebagai salah satu sekuritas terkemuka di Indonesia hanya menduduki posisi ketiga.
Jaring Investor
Target meraih investor lokal sebanyak 1,4 juta nasabah pada 2010 tentu bukanlah target yang sulit. Pasalnya, masyarakat tentu akan mencari instrumen investasi yang bisa memberikan tingkat return yang lebih baik dibandingkan dengan deposito. Dengan kata lain, potensi calon investor yang akan memilih investasi di pasar modal sudah terbuka lebar, tinggal bagaimana perusahaan sekuritas memanfaatkan itu.
Menurut Harry Wiguna, Direktur Danareksa, edukasi dan sosialisasi sebagai suatu keharusan yang tidak terelakan oleh perusahaan efek (sekuritas). Perusahaan efek harus sering melakukan sosialisasi secara intens pada masyarakat, pengusaha, profesional, kalangan mahasiswa dan artis.
Penasehat Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) ini menambahkan, bukan perkara pelik dalam menjaring perusahaan maupun personal untuk menjadi investor. Asalkan edukasi dan sosialisasi dilakukan secara intens pasti akan menarik minat mereka. Sekarang persoalannya, sejauhmana kemampuan dari sekuritas untuk menggarapnya dengan baik.
Dihubungi terpisah, Direktur Trimegah Securities, Rosinu berpendapat bahwa teknologi menjadi kunci sukses perusahaan efek dalam melayani investor. Seluruh transaksi, baik jual maupun beli, perlahan meninggalkan bentuk konvensional, yang masih mengandalkan kertas dan telepon. Karena itu, Trimegah komit memasuki babak baru melalui online trading.
Teknologi berbasis internet ini memungkinkan investor di luar pulau Jawa untuk bisa melakukan transaksi pada real time. Dengan penguasaan teknologi, maka jumlah investor berikut frekuensi dan nilai transaksi perdagangannya turut naik. Otomatis sesuai harapan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), yang ingin makin menyemarakkan bursa.
Dalam blueprint-nya, Trimegah Securities menargetkan investor lebih banyak lagi dari sekarang, yang sudah mencapai 20 ribu lebih. Sementara nilai transaksinya mencapai Rp350-Rp400 miliar per hari.
Sementara itu, Sarijaya Permana Sekuritas mencatat 15 ribu investor dengan transaksi mencapai Rp240 miliar dalam 6.000 frekuensi perdagangan selama 2007. Ini menempatkannya sebagai 20 besar dalam transaksi dan lima besar dalam frekuensi diantara perusahaan sekuritas.
Menurut Teguh Jaya, direktur Sarijaya Permana Sekuritas (SP), besaran jumlah investor dan volume transaksi sebagai buah dari sosialisasi dan edukasi yang gencar. Ini membuat perusahaan untung dan masyarakat untung. Langsung maupun tidak, lanjut dia, pihaknya sudah turut memajukan lantai bursa.

Investasi Saham

Transaksi saham di pasar modal ternyata jauh lebih mudah dari yang Anda bayangkan. Kalau modal Anda minim, katakanlah hanya Rp 5 juta, Anda bisa membeli reksadana saham, dan tak perlu datang ke sekuritas. Anda cukup langsung datang ke manajer investasi atau bank yang menjual produk reksadana.
Sedangkan untuk langsung transaksi saham, Anda harus datang kes sekuritas. Setidaknya harus bermodal sekitar Rp 15-20 juta yang Anda harus setorkan ke rekening salah satu perusahaan sekuritas yang ada di bank. investor tersebut terlebih dulu membuka rekening efek di perusahaan efek yang dipilih menjadi wakilnya di bursa saham.
Selain diharuskan membuka rekening efek, investor juga harus membuka rekening dana. Pembukaan rekening ini menjadi syarat mutlak bagi investor yang akan berinvestasi di pasar modal. Pembukaan rekening biasanya diikuti dengan penyetoran sejumlah dana tertentu. Setelah itu, untuk menjual atau membeli sangat mudah dan cepat. Semudah dan secepat Anda membuka personal computer (PC). Anda bisa menelpon AO sekuritas untuk menjual atau membeli saham tertentu.
Dengan pembukaan rekening tersebut maka secara resmi Anda telah tercatat sebagai nasabah dan data identitas anda tercatat dalam pembukuan perusahaan efek seperti Nama, Alamat, Nomor Rekening Bank dan data-data lain. Bersamaan dengan pembukaan rekening ini, Anda menandatangani perjanjian dengan Perusahaan Efek yang menyangkut hak dan kewajiban kedua belah pihak.
Nah, setelah melakukan penyetoran berarti investor sudah resmi menjadi nasabah di perusahaan efek tersebut. Itu berarti ia sudah bisa memerintahkan broker via dealer di kantor perusahaan efek itu untuk membeli saham.
Perusahaan sekuritas yang serius menekuni bisnis ini, akan menyediakan fasilitas yang memadai, mulai dari trading room atau galeri yang nyaman, dealing room, hingga fasilitas komunikasi dan back office yang bonafid serta ditunjang sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas untuk memberikan hasil riset secara periodik, harian, mingguan, bulanan dan tiga bulanan.
Memang, tidak semua perusahaan pialang yang memanjakan investornya dengan fasilitas wah. Banyak juga perusahaan sekuritas yang menjalankan bisnis apa adanya, standar dan semata-mata hanya memainkan peran sebagai pialang biasa. Semata-mata cuma meneruskan order beli atau jual dari nasabahnya. Selebihnya tidak. Perbedaan pelayanan seperti di atas, menurut Sanusi, Sekjend Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia (MISSI), akan sangat mempengaruhi minat dan loyalitas investor.
Bagi investor yang orientasinya pada biaya transaksi (transaction fee) yang murah, mereka cenderung bermain di perusahaan sekuritas yang fasilitasnya standar. “Ini biasanya investor kecil, yang aktif trading harian,” katanya.
Tapi investor yang besar, institusi atau bahkan investor asing, mereka akan memilih perusahaan broker yang memberikan fasilitas lengkap. “Investor besar ini biasanya bermain rasional dan atas dasar fundamental. Mereka sangat mengacu pada hasil riset,” tuturnya. (*)

Untuk para pemula (SAHAM)

Untuk para pemula:

Berinvestasi di pasar modal peran anda dapat melaui dua cara:

  1. Menjadi investor. Rentang waktu investasi seorang investor adalah jangka panjang malah kadang-kadang sanat panjang. Investor melakukan investasi dengan maksud untuk mengembangkan atau meningkatkan nilai asetnya (grotth investor, value investor). Investor yang baik bukan membeli saham melainkan dia membeli perusahaan yang baik reputasinya, kinerjanya, manjemennya serta masa depan industrinya. Investor yang cerdik akan membeli sebuah perusahaan yang baik pada waktu harga sahamnya rendah atau jatuh dibawah nilai wajarnya (intrinsik). INvestor membeli perusahan melalu pendekatan analisa fundamental.
  2. Menjadi trader. Rentang waktu investasi trader adalah jangka pendek. Seorang trader tidak harus memikirkan apakah saham yang dia beli merupakan saham dari perusahaan bagus atau perusahaan jelek. Dia akan mencari saham-saham yang pada waktu tertentu sedang diminati orang banyak. Trader beranggapan bahwa pada jika pad suatu waktu sebuah saham meskipun kinerja perusahaannya jelek sedang diminati orang banyak maka harga saham tersebut akan naik dan sebaliknya jika minta nya berkurang maka terhadap saham tersebut maka harganya akan turun. Keadaan semacam ini dapat berlangsung dalam rentang waktu yang pendek. Fluktuasi harga ini mereka jadikan sebagai kesempatan untuk mendapatkan pendapatan dengan memanfaatkan perbedaan harga atau fluktuasi dalam jangka pendek. Kebanyakan para trader melakukan investasi untuk memperoleh pendapatan (income) meskipun jika mereka telah menjadi profesional sifat tersebut dapat berubah menjadi untuk mengembangkan modalnya. Trader melaksanakan transaksinya dengan pendekatan analisa teknikal. Sesuaidengan rentang waktunya trader dibagi menjadi
    • Momentum trader dengan rentang waktu 2-3 bulan
    • Short Term Trader dengan rentang waktu sampai 1 bulan
    • Swing Trader dengan rentang waktu 3 hari s/d 2 minggu
    • Day Trader dengan rentang waktu 1-2 hari
    • Intraday trader. Melakukan beberapa transaksi beli pagi jual sore atau sebaliknya .
    • Scalper melakukan puluhan bahkan lebih transaksi per hari (dimungkinkan dengan bantuan komputer)

Berikut inn disampaikan apa itu Analisa Fundamental dan apa itu Analisa Teknikal

Technical Analysis vs. Fundamental Analaysis

Ada dua cara untuk menganalisa harga saham yaitu melalui analisa fundamental dan analisa teknikal

  • Analisa Fundamental dipergunakan untuk menentukan harga saham berdasarkan atribut-atribut fundamental saham tersebut seperti Eraning per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), Return on Investment (ROI), Retutrn on Asset (ROA), Profit/Loss( P/L), Price to Book Value (PBV) mempelajari keadaan makro seperti GDP, Inflasi, suku bunga, nilai tukar, tingkat pengangguran, indeks harga konsumen dll.
  • Analisa Teknikal berkaitan lebih banyak dengan masalah-masalah psikologis yang mempengaruhi harga sebuah saham dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor emosional. Salah satunya adalah dengan mencari jawaban atas pertanyaan bagaimana kesan atau pandangan orang lain terhadap sebuah saham dan bagaimana kesan/pandangan tersebut mempengaruhi saham yang bersangkutan