Bursa saham di Indonesia beberapa tahun terakhir menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat. Wajar, jika dana sekitar Rp 5-6 triliun per hari beredar di pasar modal. Nilai transaksi per hari terbesar di Indonesia ini tidak mungkin terjadi tanpa ada 169 perusahaan yang namanya sekuritas (perusahaan efek).
Dunia pasar modal mulai dilirik masyarakat, seiring prospek keuntungan yang diberikan dari transaksi ini cukup besar. Terbukti dari tahun ke tahun nilai transaksi terus meningkat tajam. Lantas sejauhmana perusahaan broker (sekuritas) memainkan perannya di pasar modal?
Jelas perkembangan pasar modal yang begitu dahsyat tidak bisa lepas dari peran lembaga-lembaga yang tergabung dalam Self Regulatory Organization (SRO), dan juga Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) tentunya. Dari sekian banyak lembaga tersebut, salah satu lembaga yang menunjang perkembangan pasar modal adalah perusahaan efek atau dikenal dengan sekuritas.
Perusahaan ini boleh dibilang jembatannya bagi perusahaan yang akan masuk pasar modal dan juga bagi masyarakat yang akan berinvestasi di pasar modal. Perusahaan efek memiliki andil besar dalam membawa perusahaan masuk pasar modal dan juga menggenjot frekuensi dan nilai transaksi perdagangan saham.
Dari tangan mereka mengalir investor, baik luar maupun dalam negeri, dengan investasi yang dimilikinya untuk turut membanjiri lantai bursa. Dan dari kerja mereka pula perusahaan yang akan mencatatkan saham bursa dapat memperoleh dana segar.
Di Indonesia, perusahaan sekuritas bisa saja menjalankan satu dari izin yang diberikan dan juga dimungkinkan untuk menjalankan kedua fungsi tadi, yaitu sebagai perusahaan yang akan membawa perusahaan masuk pasar modal (Penjamin Efek) dan juga sekaligus menjadi broker yang memfasilitasi masyarakat untuk membeli dan menjual saham di pasar modal. Karena itu untuk bertransaksi di pasar modal, masyarakat harus melalui perusahaan sekuritas.
Sekedar gambaran, selama tahun lalu, total transaksi saham di bursa telah mencapai Rp 1.050 triliun, naik 324% dari transaksi selama 2006 yang mencapai Rp 445,71 triliun. Sedangkan tahun 2008, selama 11 hari perdagangan (2 – 18 Januari) nilai transaksinya telah mencapai Rp 62,310 triliun. Jika diasumsikan pada tahun ini, jumlah perdagangan saham di bursa sekitar 240 hari, maka total dana yang ditransaksikan pada saham akan mencapai sekitar Rp 1.360 triliun. Dan total transaksi sebesar itu, dijalankan melalui 117 perusahaan sekuritas.
Meningkatnya pertumbuhan transaksi tahun 2007, juga disumbangkan dari adanya pertambahan investor baru. Dan sudah dipastikan investor baru itu masuk berinvestasi saham di pasar modal sekuritas. Tak salah jika Direktur BEI MS Sembiring mengakui secara fair peranan sekuritas. “Sebanyak 122 anggota bursa (AB) telah berhasil membawa 600 ribu investor selama dan nilai transaksi rata-rata per hari sebesar Rp6,1 triliun,” papar Sembiring kepada Investor Daily.
Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam), tercatat hingga November 2007, jumlah perusahaan sekuritas mencapai 169 poerusahaan. Melalui perusahaan itu pula pemerintah menaruh harapan dapat menarik setidaknya 2 juta nasabah pada 2010, untuk berinvestasi dan bertransaksi di pasar modal. Dari jumlah itu, diharapkan sekitar 70% merupakan investor lokal yang kemungkinan besar menjadi tugasnya sekuritas lokal. Sedangkan 30% berasal dari investor asing yang menjadi porsi sekuritas asing (joint venture).
Ditinjau dari kemampuan merangkul investor, kemungkinan sekuritas lokal pasti lebih banyak dibandingkan asing. Sedangkan dari sisi nilai transaksi, kemungkinan asing lebih besar. Lihat saja data BEI. Sejak perdagangan saham dari 12 Desember 2007 hingga 12 Februari lalu, data menunjukkan dari transaksi terbesar 25 perusahaan broker, sebagian didominasi broker asing.
Tiga perusahaan asing mendominasi lima besar transaksi, yaitu Kim Eng securities, CLSA Indonesia dan CIMB-GK Securities. Sedangkan Danareksa milik BUMN dan sebagai salah satu sekuritas terkemuka di Indonesia hanya menduduki posisi ketiga.
Jaring Investor
Target meraih investor lokal sebanyak 1,4 juta nasabah pada 2010 tentu bukanlah target yang sulit. Pasalnya, masyarakat tentu akan mencari instrumen investasi yang bisa memberikan tingkat return yang lebih baik dibandingkan dengan deposito. Dengan kata lain, potensi calon investor yang akan memilih investasi di pasar modal sudah terbuka lebar, tinggal bagaimana perusahaan sekuritas memanfaatkan itu.
Menurut Harry Wiguna, Direktur Danareksa, edukasi dan sosialisasi sebagai suatu keharusan yang tidak terelakan oleh perusahaan efek (sekuritas). Perusahaan efek harus sering melakukan sosialisasi secara intens pada masyarakat, pengusaha, profesional, kalangan mahasiswa dan artis.
Penasehat Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) ini menambahkan, bukan perkara pelik dalam menjaring perusahaan maupun personal untuk menjadi investor. Asalkan edukasi dan sosialisasi dilakukan secara intens pasti akan menarik minat mereka. Sekarang persoalannya, sejauhmana kemampuan dari sekuritas untuk menggarapnya dengan baik.
Dihubungi terpisah, Direktur Trimegah Securities, Rosinu berpendapat bahwa teknologi menjadi kunci sukses perusahaan efek dalam melayani investor. Seluruh transaksi, baik jual maupun beli, perlahan meninggalkan bentuk konvensional, yang masih mengandalkan kertas dan telepon. Karena itu, Trimegah komit memasuki babak baru melalui online trading.
Teknologi berbasis internet ini memungkinkan investor di luar pulau Jawa untuk bisa melakukan transaksi pada real time. Dengan penguasaan teknologi, maka jumlah investor berikut frekuensi dan nilai transaksi perdagangannya turut naik. Otomatis sesuai harapan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), yang ingin makin menyemarakkan bursa.
Dalam blueprint-nya, Trimegah Securities menargetkan investor lebih banyak lagi dari sekarang, yang sudah mencapai 20 ribu lebih. Sementara nilai transaksinya mencapai Rp350-Rp400 miliar per hari.
Sementara itu, Sarijaya Permana Sekuritas mencatat 15 ribu investor dengan transaksi mencapai Rp240 miliar dalam 6.000 frekuensi perdagangan selama 2007. Ini menempatkannya sebagai 20 besar dalam transaksi dan lima besar dalam frekuensi diantara perusahaan sekuritas.